Mulanya amat sempurna
Bagai dinda dan kekanda dalam pujangga
jangan dinda resah, abang pergi mengumpul dinar
Kita abadi di syurga, yang diberi nama singgahsana
7 purnama berganti malam masih tak lupa
Peristiwa satu malam yang penuh tangis dan duka
kini dalam pandangan namun masih gelita
Dalam puisi aku mencakar dan ronta
Menzahir rasa yang telah lama memendam hiba
Dalam kepiluan mungkin ini yang terakhir aku coretkan
Berharap redha kenangan jadi kenangan
Kerna aku sudah ada dunia, dunia yang aku reka
Bermimpi ilham bidadari berani datang merampas takhta
Dalam empayar ini semua indah belaka
Ramainya jelata, bertuhankan aku si raja
Kini bukan seperti waktu bersama kamu
Kesana kemari memeras mencari dinar
Sudah jadi adat empayar sampai suatu masa
Kita bertemu di medan perang yang maya
Lalu dengan kuda jantan dan suara cool tanpa meneran
Pegun suatu bayang, ternampak mata tajam tusuk menikam iris
Suatu pandangan yang manja dulu dibelai dengan puitis
masih dalam puitis tanpa ritma atas puitis
4 kaki mengenjak bumi namun cinta bersemi
Jangan lupa, kita di medan perang, bukan lagi kerna cinta dan sayang
Namun dalam cinta dan sayang, kita berbunuhan sesama sendiri
Dalam cinta dan sayang, kita berbunuhan sama sendiri.
No comments:
Post a Comment